Meskipun di Indonesia, tren pembekuan embrio atau sel telur belum terlalu
populer, namun beberapa orang sudah melakukannya. Berbeda dengan luar negeri,
banyak wanita mupun pria yang melakukan hal tersebut sebagai sebuah ‘investasi’
masa depan.
Banyak orang yang ingin memiliki aak di waktu yang tepat. Namun, ada
beberapa rencana yang membuat mereka harus menunda rencanan tersebut. Tetapi,
umur tak bisa kembali, kesuburan seseorang pun akan sedikit demi sedikit
menurun saat usia tak muda lagi, terlebih pada wanita. Nah, cara pembekuan
embrio atau sel telur ini menjadi salah satu cara untuk mewujudkan hal
tersebut. Jadi, mana yang lebih baik diantara keduanya?
Perbedaan Pembekuan Sel Telur dan Pembekuan Embrio
Perbedaan paling utama diantara keduanya adalah, pembekuan embrio
membutuhkan sel sperma sedangkan sel telur tidak. Pembekuan sel telur membuat
para wanita memiliki banyak pilihan. Pasalnya, mereka tidak membutuhkan sperma
layaknya pembekuan embrio.
Jadi, seorang wanita lajang dapat melakukan hal tersebut tanpa terikat
terlebih dahulu dengan sebuah pernikahan ataupun seorang pria. Ketika telah
menemukan pria yang cocok, maka ia dapat mencairkan sel telur tersebut untuk
dibuahi.
Pembekuan sel telur atau oocyte crypreservation merupakan prosedur
pengambilan sel telur dari rahim seorang wanita yang nantinya akan dibekukan
dan disimpan di laboratorium. Pada prosesnya sebenarnya hampir sama dengan
proses pembekuan embrio.
Di mana ketika embrio atau sel telur tersebut akan digunakan, sel telur
atau embrio tersebuat akan dicairkan. Setelah dicairkan, sel telur akan ditanam
pada rahim wanita yang akan hamil. Sebelum ditanam pada rahim seorang wanita,
biasanya terlebih dahulu akan dibuahi.
Proses pembekuan embrio sedikit berbeda dengan sel telur. Pasalnya sebelum
dibekukan, sel telur yang telah dibuah oleh sperma baru akan dibekukan dan
terbentuklah embrio yang nantinya kaan dibekukan dalam jangka waktu yang telah
ditentukan.
Sel telur pada dasarnya terdiri dari satu sel yang sebagian besar terdiri
dari air. Jadi ketika Anda membekukan sel telur, Anda akan mengambil semua air
dan menempatkan dalam sebuah nitrogen cair. Dapat diartikan bahwa sel telur
adalah satu sel besar yang sebagian besar terbuat dari air, maka hal tersebut
tidak sekuat embrio.
Embrio sendiri terdiri dari 100 sel dan lebih kuat dari pada hanya sel
telur. Pun, ketika Anda mengeluarkan air dari embrio, embrio masih memiliki
banyak struktur lain untuk dapat tumbuh.
Saat Anda memilih untuk membekukan sel telur, maka selama dua minggu Anda
akan diresepkan obat kesuburan untuk dapat merangsang produksi telur dan akan
dilakukan pemantauan rutin untuk melihat perkembangannya. Setelah dua minggu
dan telur siap ‘dipanen’ Anda akan melakukan proses pengambilan sel telur
tersebut untuk kemudian dibekukan.
Pembekuan Sel Telur dan Pembekuan Embrio Belum
Tentu Berhasil?
Bagi seseorang atau pasangan yang akan melakukan pembekuan sel telur atau
embrio, faktor biaya dan lain-lain tentu sudah diperhitungkan. Pasalnya, pada
beberapa kasus pembekuan sel telur atau embrio bisa saja gagal dilakukan.
Tidak hanya itu, mengingat bahwa sel telur mudah sekali rapuh daripada
embrio, maka ada kemungkinan beberapa bisa hilang atau gagal pada saat
pencairan. Embrio memiliki peluang lebih besar daripada sel telur saat
dicairkan. Paling tidak diperlukan sekitar 15 atau lebih sel telur beku untuk
akhirnya menghasilkan satu atau dua embrio dengan kualitas terbaik.
Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pada proses
pencairan, saat dibuahi, dan dipindahkan atau dibekukan kembali. Disisi lain,
meskipun banyak telur dan embrio yang selamat atau sukses pada saat pencairan,
bukan berati semua itu bisa berakhir dengan bayi.
Manakah yang Lebih Baik, Pembekuan Embrio Atau Telur?
Reviewed by Anonymous
on
July 28, 2020
Rating:

No comments: