
Di dalam rongga hidung manusia terdapat “filter” yang memungkinkan udara dari luar yang terhirup cukup aman sebelum mencapai paru-paru. Filter tersebut dinamakan turbinat atau konka. Sayangnya, seseorang mungkin harus melakukan turbinektomi untuk mengembalikan fungsi konka tersebut lantaran ia mengalami gangguan.
Gangguan pada turbinat terbilang cukup umum. Di mana tiga pasang struktur tulang yang berdaging itu kerap membengkak, membesar, atau mengalami disposisi. Kondisi itu membuat seseorang sulit atau bahkan tidak bisa bernapas lantaran konka yang bermasalah tersebut menghalangi sirkulasi udara.
Turbinektomi dilakukan untuk membuka kembali jalur udara yang terhalang oleh konka tersebut. Dalam praktiknya, dokter mungkin sekali membuang, dengan cara memotong bagian itu. Namun, umumnya dokter hanya membuat konka kembali mengecil dengan upaya yang disebut kauterisasi atau koblasi dengan memanfaatkan frekuensi radio.
Karena turbinektomi ini termasuk “operasi”, barang tentu prosedur ini memiliki efek samping. Namun, efek sampingnya dapat dibilang minimal, apalahi untuk prosedur turbinektomi yang kurang invasif.
Pasien yang menjalani turbinektomi yang kurang invasif biasanya hanya mengalami hingung kering atau terdapat kerak sebagai efek sampingnya. Kondisi itu berangsur hilang setelah kurang lebih tiga minggu. Dokter biasanya akan memberikan “penyemprot hidung” dan salep antibiotik untuk mengurangi efek samping tersebut.
Adapun efek samping yang umum terjadi ketika pasien menjalani turbinektomi dengan prosedur yang lebih invasif atau melibatkan pengangkatan tulang atau jaringan adalah:
- Rasa nyeri;
- Pendarahan;
- Pembengkakan;
- Iritasi;
- Rongga hidung menjadi kering; hingga
- Infeksi.
Belum lagi dengan kemungkinan bahwa tulang turbin atau konka pasien tumbuh kembali setelah operasi, sehingga perlu menjalani turbinektomi lanjutan.
Proses Pemulihan Setelah Menjalani Turbinektomi
Waktu pemulihan bervariasi tergantung dengan kondisi dan jenis prosedur turbinektomi yang dilakukan. Dalam prosedur turbinektomi yang kurang invasif, pemulihan tentunya lebih cepat dan tidak terlalu menyakitkan. Dengan jangka waktu sekitar tiga minggu, jaringan parut baru di hidung pasien akan benar-benar sembuh dan kembali normal.
Sementara itu, untuk jenis turbinektomi yang lebih invasif, pemulihan membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan. Prosedur ini lebih merepotkan dan menuntut ketelatenan pasien. Sebagai contoh, dalam waktu satu minggu setelah turbinektomi dilakukan, pasien masih harus membebat hidungnya dengan kasa untuk menjaga jaringan tetap berada di tempatnya.
Untuk menghindari kemungkinan pendarahan dan pembengkakan, hindari aktivitas berat dan secara perlahan mulai untuk berkelahi menghembuskan udara melalui hidung beberapa minggu setelah operasi.
Selain itu, pasien tetap harus berhati-hati ketika tidur. Posisi tidur dan pakaian yang digunakan harus diatur sedemikian rupa untuk menghindari iritasi di hidung mereka.
Seberapa Besar Kemungkinan Turbinektomi Mengatasi Masalah?
Tujuan dari turbinektomi adalah untuk mengecilkan ukuran turbinat tanpa membuang terlalu banyak jaringan. Kurangnya jaringan konka atau turbin tersebut dapat menyebabkan rongga hidung menjadi sangat kering dan berkerak.
Dalam beberapa kasus, turbin yang berkurang dapat tumbuh kembali, sehingga membutuhkan operasi ulang untuk kembali menyesuaikan ukurannya. Secara umum, turbinektomi berhasil membuka saluran udara dan membuat pernapasan jauh lebih mudah. Dengan mengikuti instruksi pra-operasi dan setelah perawatan dokter bedah, pasien dapat mempercepat penyembuhan dan mendapatkan hasil yang maksimal.
***
Dalam kasus ini, pasien dan dokter harus menjalin komunikasi yang baik. Keluhan pasien akan kondisinya harus berhasil diubah dan diterjemahkan dokter menjadi diagnosis yang tepat. Hal ini akan mempengaruhi kemungkinan prosedur turbinektomi yang akan dilakukan. Dengan begitu, peluang kesembuhan dan pasien mendapatkan kondisi terbaik setelah menjalani prosedur semakin terbuka lebar.
Apa yang Terjadi Setelah Menjalani Prosedur Turbinektomi?
Reviewed by SehatQ
on
July 28, 2020
Rating:
No comments: